Kamis, 18 Juni 2015

AJI MUMPUNG BULAN RAMADHAN



AJI MUMPUNG BULAN RAMADHAN
Password kecemburuan sosial yang menjadi mayoritas di tanah air ini, mereka sebut dengan istilah AJI MUMPUNG. Inilah fenomena keunikan negeri Untuk mengimbangi popularitas mereka dengan mempunyai jabatan. Tidak heran jika mereka mendadak kaya raya namun setelah jabatan tiada, lantas lenyap pula kekayaannya, kekayaan semacam ini boleh saja kita sebut sebagai kekayaan Hipotesis(bersifat sementara)
Aji mumpung adalah kata-kata sindiran dalam bahasa jawa, untuk orang-orang yang memanfaatkan kelebihannya pada jalur tidak bijak. Aji berarti sesuatu yang berharga, sesuatu yang dihormati. Aji juga berarti senjata, formula, atau apa saja yang bisa membentuk kesaktian atau kehebatan. Mumpung bisa diterjemahkan sebagai ‘selagi’ atau ‘saat masih’. Dalam bausastra jawa (kamus bahasa jawa) yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Yogyakarta, aji mumpung diartikan sebagai ‘menggunakan kewenangan yang ada untuk keuntungan diri sendiri’. Jadi aji mumpung adalah menggunakan wewenang, kekayaan, kepandaian, garis keturunan, jalur politik dan segala kelebihan yang kita miliki untuk menguntungkan diri sendiri, atau pada jalur negatif.
Istilah Aji Mumpung memang selalu kita kaitkan dengan hal-hal negatif, penuh tanda Tanya, bahkan menjadi buah bibir masyarakat disekitarnya, namun Aji mumpung bagi umat muslim sangat di sarankan kala bulan suci Ramadhan tiba yaitu dengan bermunajat, bermuhasabah, mendekatkan diri pada Allah SWT.
Bulan Ramadhan adalah bulan taubat dan ampunan, banyak umat Islam yang mendapatkan ampunan pada bulan Ramadhan karena bersungguh-sungguh dalam beribadah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَن صام رمضان إيمانا واحتسابا غُفِر له ما تقدم من ذنبه
"Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu." (HR Bukhari Muslim).
Bahkan dikutib dari salah satu cerita guru saya Almukarrom KH. Moh. Hassan Ahsan Maulana bin Kh. Moh. Hasan Saiful Islam " Ada seorang ayah dan anak beragama kristiani yang hidup dilingkungan muslim. Kala itu bulan ramadhan sang anak bermain dengan teman-teman sebayanya tanpa menghiraukan teman muslimnya yang sedang berpuasa bahkan sang anak juga membujuknya agar tidak berpuasa, namun kejadian itu diketahui oleh ayahnya lantas ayahnya berkata "Nak kita mempunyai hari-hari mulia mereka umat muslim juga demikian, jadi tidak boleh mengganggu umat muslim yang sedang berpuasa karena bulan ramadhan itu adalah hari mulianya namun sang anak tetap mengganggu temannya. Setelah hari itu berlalu sang ayah meninggal dunia, Kemudian  anak tersebut bermimpi melihat ayahnya tengah di berada di taman yang sangat indah lantas sang anakpun bertanya. Ayah ada dimana? aku disurga. Kenapa ayah bisa berada ditempat itu? Ayah diberi rahmat oleh Allah SWT karena menghargai umat muslim yang berpuasa, sebelum meninggal ayah mengucapkan dua kalimat syahadat ". dari cerita ini bisa diambil kesimpulan bahwasannya sungguh mulia dan penuh berkah keagungan bulan ramadhan bahkan Allah pun berkenan membuka hati dan memberinya hidayah mampu mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai simbol keyakinannya disaat ajal menjemputnya, tentu kita semua sebagai umat muslim sangat mengharapkan rahmat dan ridlo Allah SWT meninggal dengan keadaan membawa iman dan islam, lebih-lebih meninggal dengan khusnul khotimah. Inilah bagian dari bukti toleransi yang sebaiknya dari kaum minoritas untuk mayoritas bukan sebaliknya.
Jika pelaku bisnis yang berjiwa kompetitif, bertujuan untuk menemukan peluang guna mendapatkan uang maka muslim yang berjiwa Optimis harus lebih kompetitif mengharapkan Ridlo Allah SWT dengan memanfaatkan bulan yang telah di anugerahinya. Aji mumpung diberi nafas, mumpung diberi kesempatan, mumpung diberi bulan ramadhan sebagai bulannya umat Rosulullah SAW
Istilah “Aji Mumpung” tentu bisa berkonotasi positif,. aji Mumpung (mumpung ada kesempatan), bila selalu berpikir tentang “apa yang harus aku perbuat” (what can I do), tentu akan bermaksna positif. Sebaliknya jika aji mumpung ditafsirkan sebagai “apa yang aku dapat” (what can I get) akan bermakna negatif. Bila kita berpikir positif, tentu jiwa kompetitif tidak boleh ditinggalkan, sebab lemah dan lengahnya sedikit kesempatan itu sudah direbut dan direnggut oleh waktu. Tak heran bila Ali bin Abi Thalib pernah mengatkan bahwa “waktu ibarat pedang” (al waktu kas ‘saifi). Pedang adalah ibarat peluang. Bila pedang sudah dipegang, tentu terserah siapa yang menggunakan.
Kunci dari bulan suci ramadhan tidak hanya terletak pada keberkahannya lebih utama lagi pada pendekatan yang menjadi kunci utama manusia sebagai hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia (Hablumminallah wa hablumminannas) pokok intinya ada pada satu malam yang lebih mulia dari 1000 bulan yaitu malam lailatul qadar, Bahkan tentang lailatul qodar itu, Allah SWT menurunkan surat khusus dalam fimannya:

ِناَّ اَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ () وَمَااَدْرَاكَمَا لَيْلَةُ اْلقَدْرِ() لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌمِنْ اَلْفِ شَهْرٍ()تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ اَمْرٍ() سَلاَم ٌهِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tu-hannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qodar 1-5).
Maka dari itu sudah sepatutnyalah kita berbangga diri menyambut aji mumpung khusus milik pribadi untuk menunjukan integritas jati diri berjihad melawan hawa nafsu sebagai hamba yang dikaruniai iman dan islam agar supaya kuat menjalani ibadah puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Tidak ada kaya maupun miskin menahan haus dan lapar di bulan ramadhan, tidak membedakan gemuk ataupun kurus dalam waktu berbuka, tidak pula ada batasan berorotot kekar dan rapuh untuk berpuasa. Lupakan aji mumpung bagi mereka yang berkesempatan diri, kaitkan aji mumpung merangkul bulan suci, Bersihkan hati, sucikan diri, indahkan pribadi, mumpung hidup ini belum mati.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu pencari

Angan berselimut angin Senja menepi terik mencari Menari mencuci udara menutupi kulit ingin Terbekam frasa berkelana cuaca dingin ...